Langsung ke konten utama

Sebuah Rangkaian Frasa yang Mewakili Rasa


Bersambung…
By: Sekar Hidayatun Najakh
Kau hadirkanku dalam undangan skenario-Mu
Memantik kesyahduan pagelaran kisah temu
Hingga episode demi episode lalu berlalu,
Tenggelam dalam derasnya pusaran waktu
            Di setiap untaian hari, semakin kukenali
            Rona paras pemberi kendali sebuah arti
            Ia terpahat elok dalam ruang benak
            Namun, mengapa kini menyisakan sesak?
Izinkan aku di sini saja dalam senandung
Menghirup rindu yang sudah tak terbendung
Menerka-nerka gentar tanya yang terpasung
Haruskah episode kita bersambung?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Arti Bahagia

Inilah kita yang sedang tertatih dalam perjalanan. Kita yang barangkali sedang letih berlatih sabar. Kaki-kaki yang terseok dan terjatuh, di medan perjuangan. Kita yang telah menguras hidup dengan dengan segala pengorbanan. Pengorbanan energi, perasaan, pikiran, serta curi-curi waktu untuk sekadar meluruskan punggung pada sandaran. Kehidupan memang seperti ini, ya. Kita paham benar jika tidak semua impian akan datang berwujud kenyataan. Lantas batin pun berkata, "Sudah sejauh ini. Namun, ujungnya semakin tak terlihat." Impian yang kita kira akan membuahkan bahagia, satu per satu berguguran. Meneruskan perjalanan ini atau berputar ke arah yang lain? Baik, kita pilih saja. Tidak ada pilihan yang salah di sini. Tidak apa-apa, kita lakukan saja. Sehebat apa pun kita berencana, tetap rencana-Nya yang akan menuntun kita. Dialah yang berhak penuh dalam menentukan, ke arah mana kita harus berbahagia. Ada yang mengatakan, jika bahagia adalah cara pandang tentang hidup. Di mana unsur s...

Seseorang yang Kusebut "Dia"

Pada suatu malam yang panjang, seseorang tengah menghidupkan sebuah perjuangan. Dia berjalan. Perlahan. Menyebut beberapa nama, lantas kemudian menepikan kata sederhana di ujung kalimat akhir. "Aamiin". Dia tertunduk, pasrah. Sampai ... dia pun tak sempat bertanya pada pohon-pohon atau riwayat embusan angin malam itu yang tidak menyerah menghalau rasa dingin, melesat membawa sebuah ingin. Yang terjadi ... dua telapak tangannya hangat, menampung tetesan air mata. Aku melihat sebuah tanda tanya di sepanjang jalan kenang. Harap yang terus dia teriakkan dalam tenang. Apakah dia bermimpi? Aku rasa tidak. Sebuah keyakinan terpatri kuat dalam hatinya. Tentang kuasa Tuhan yang tiada kata "tak mungkin". Sang Mahakuasa yang bisa membuat ada dari yang mulanya tiada. Kusebut dia seseorang yang tengah menanti. Tatkala Tuhan berkata "kun". Lantas inginnya pun terjadi.

Sepakat

Memangnya ada, ya, hidup berwarna terus? Tentu saja akan ada sisi kelabu yang datang sesekali. Siapa, sih, yang tak ingin menyaksikan mimpi yang pernah ditanam dan dirawat tumbuh subur sampai bisa dinikmati keindahan bunganya. Tentu saja semua ingin itu, kan? Bukan suatu hal yang asing lagi. Tentang persepsi dan ekspektasi kita tentang hidup memang demikian adanya. Sangat manusiawi, tidak bisa kita pungkiri. Tuhan paham benar apa maunya kita. Serta Tuhan pun tahu apa yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Sehingga, percayalah Tuhan tak mengutus semesta secara semena-mena. Kita dengan porsi yang sudah ditimbang pas, tidak kurang dan tidak lebih. Perbanyak muhasabah dan syukur agar kita menjadi pribadi yang lebih tabah. Tanda dari rasa syukur adalah ketika hati dan pikiran bersatu menyepakati keputusan semesta. Yuk, sepakat, ya.